Tatkala aku menyarungkan pedang
Dan bersimpuh di atas pangkuannyaTertumpah rasa kerinduanku pada sang ibu
Tangannya yang halus mulusMembelai kepalaku...Tergetarlah seluruh jiwa ragakuMusnahlah seluruh api semangat juangku
Namun sang ibu berkata...Anakku sayang, apabila kaki sudah melangkahDi tengah padang...Tancapkanlah kakimu dalam-dalam
Dan tetaplah terus bergumamSebab, gumam adalah mantra dari dewa-dewaGumam mengandung ribuan maknaApabila, gumam sudah menyatu dengan jiwa ragaMaka gumam akan berubah menjadi teriakan-teriakanYang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besarYang nantinya akan mampu merobohkan istana yang penuh kepalsuanGedung-gedung yang dihuni kaum munafik
Tatanan negeri ini sudah hancur, Anakku...Dihancurkan oleh sang penguasa negeri iniMereka hanya bisa bersolek di depan kacaTapi, membiarkan punggungnya penuh nodaDan penuh lendir hitam yang baunya kemana-mana
Komentar
Posting Komentar